date

Mon to Sat
8 AM to 10 PM

date

Call Us
(021) 6452121

Article Section

news

Kenali Tanda dan Gejala Anak Autis

Istilah autisme berasal dari kata  autos yang berarti diri sendiri dan isme yang berarti suatu paham. Secara harafiah autisme merujuk pada suatu keadaan yang menyebabkan anak – anak hanya memiliki perhatian terhadap dunianya sendiri. Bila mengacu pada definisi autisme secara lebih spesifik berdasarkan DSM-5, autisme merupakan gangguan perkembangan pada anak yang ditandai dengan 2 kelompok gejala utama, yaitu : gangguan pada interaksi sosial dan komunikasi  sosial, serta gangguan  pola tingkah laku yang cenderung repetitif dan stereotipik. Gejala autisme ini sangat bervariasi dan mulai terlihat sebelum anak berusia 3 tahun. Berdasarkan kriteria diagnosis terbaru saat ini, autisme lebih sering dikenal sebagai Gangguan Spektrum Autistik (GSA) atau Autistic Spectrum Disorder (ASD).

Berikut adalah tanda dan gejala anak autis yang perlu diketahui orang tua:

  1. Jarang tersenyum

Orang tua perlu waspada bila anak anda jarang tersenyum dan merespon terhadap interaksi dari orang tua pada usia sekitar 6 bulan. Anak autisme juga jarang memberikan respons baik verbal maupun non verbal terhadap permainan sosial sederhana seperti misalnya ci-luk-ba.  Kurangnya senyum sosial di awal perkembangan anak merupakan tanda awal pada autisme.

  1. Tidak merespon panggilan

Gejala awal autisme tampak seolah – olah anak “tuli” karena anak tidak menoleh ketika dipanggil namanya.  Namun demikian biasanya anak akan berespon dan menoleh terhadap suara yang menarik baginya; seperti misalnya bila mendengar suara gadget, dering telepon, suara televisi dll. Bahkan terkadang orang tua sudah menanyakan kondisi telinga anak ke dokter dan didapatkan hasil pemeriksaan telinga yang normal. Pada usia 6 – 9 bulan anak normalnya mulai dapat merespon terhadap panggilan.

  1. Kontak mata yang kurang

Perlu diwaspadai bila anak jarang menatap mata saat melakukan interaksi sosial dengan anda. Anak autisme cenderung menghindari kontak mata dan lebih menyukai melihat pada benda yang menarik perhatiannya. Jadi bila orang tua memberikan sesuatu kepadanya, si anak cenderung melihat benda yang diberikan, bukan melihat mata si pemberi barang, sehingga tidak terjadi kontak sosial pada interaksi tersebut.

  1. Anak kurang bisa menunjuk sesuatu yang diinginkan (lack of pointing)

Perkembangan bahasa anak normal biasanya dimulai dengan berkembangnya bahasa reseptif (pemahaman terhadap suatu instruksi). Anak usia 12 bulan biasanya mulai bisa menunjuk ke arah sesuatu yang diinginkan. Sedangkan anak usia 16 bulan sudah mulai bisa menunjuk diri sendiri dan menunjuk anggota tubuhnya bila ditanyakan seperti rambut, mata, hidung dll. Anak dalam spektrum autisme cenderung tidak melalui fase pointing tersebut. 

  1. Terlambat bicara

Gangguan perkembangan bahasa ekspresif (mengucapkan kata, kalimat)  merupakan gejala yang paling tampak nyata pada anak dengan spektrum autisme. Perlu diwaspadai  anak yang belum bisa mengucapkan 1 kata pada usia 12 bulan dan merangkai 2 kata pada usia 24 bulan sebagai gejala autisme.

Anak autisme cenderung melakukan aktivitas kegiatan hariannya sendiri, seperti mengambil minuman di atas meja, snack dll. Namun demikian, bila tidak bisa melakukannya sendiri, anak cenderung meraih tangan orang tua dan menggunakannya untuk menyatakan keinginannya, seperti menggunakan tangan orang tua yang diarahkan ke handle pintu bila ingin keluar atau masuk kamar, menyalakan lampu, dll. Anak cenderung marah dan frustrasi bila orang tua tidak mengerti apa yang diinginkan oleh si anak.

  1. Komunikasi 2 arah yang kurang.

Anak autisme cenderung berbicara sendiri, mengulang – ulang kata – kata tertentu yang terkadang tanpa arti (bahasa planet) dan sulit membangun komunikasi sosial dengan orang lain. Bahasa non verbal seperti kontak mata, ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang diperlukan untuk komunikasi sosial juga kurang.  Anak cenderung cuek terhadap lingkungannya dan tidak menyadari keberadaan orang lain, sehingga anak terlihat bermain sendiri.

  1. Perilaku stereotipik

Perilaku autistik yang sering kali terlihat pada saat anak bermain diantaranya adalah anak suka membariskan mainan menjadi deretan horizontal memanjang atau vertikal ke atas, anak suka melihat benda berputar seperti kipas angin, roda mobil – mobilan, dll. Anak cenderung memutar – mutar benda dan dilihat dalam jangka waktu lama. Anak – anak tersebut tidak mempunyai ide dan pemikiran tentang bagaimana cara menggunakan mainan tersebut, sehingga yang tampak adalah perilaku – perilaku stereotipik tersebut.  Selain itu anak kadang menyukai 1 benda tertentu secara berlebihan yang selalu dibawa kemana-mana.

Perilaku anak yang ‘ritualistik’ dan bersifat rutin juga tampak khas pada anak autisme, seperti meletakkan  mainan atau sepatu selalu di tempat yang sama dengan posisi yang selalu sama, kalau bepergian harus melalui rute yang sama, dll. Bila perilaku yang sifatnya rutin tersebut tidak dipenuhi, anak cenderung gelisah dan marah.

  1. Gangguan penerimaan input sensori :
  • Anak tidak menyukai suara tertentu (misal : hair drier, vacuum cleaner, music, dll). Anak biasanya langsung menutup telinga, berteriak dan marah.
  • Anak tidak menyukai aktivitas sikat gigi, gunting rambut, gunting kuku
  • Anak berjalan dengan menjinjit, tidak menyukai berjalan di rumput, pasir dll
  • Anak tidak menyukai tekstur baju tertentu. Bila menyukai satu baju akan dipakai berulang kali
  • Anak cenderung aktif, menyukai aktivitas melompat – lompat di atas kasur, berputar – putar (spinning) sambil mengepakkan tangannya (flapping).
  • Anak cenderung memanjat perabotan rumah, menyukai tempat – tempat yang sempit seperti di kolong meja, memasukkan dirinya diantara matras dll.
  • Anak terkadang bengong dengan tatap mata kosong melihat ke satu titik tertent
  • Anak suka melihat bayangan diri sendiri

Pengenalan  tanda dan gejala autisme secara dini dapat dilakukan untuk menghindari keterlambatan orang tua mengenali gejala autisme pada anaknya. Keterlambatan orang tua mengenali tanda dan gejala autisme tersebut mengakibatkan keterlambatan pula dalam hal diagnosis dan terapi yang dibutuhkan.  Sementara itu  terapi sedini mungkin adalah salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam penanganan anak dengan autisme.

Share this article

Comment (0)

Leave Comment

FREE EBOOK!