date

Mon to Sat
8 AM to 10 PM

date

Call Us
(021) 6452121

Article Section

news

Faktor Keturunan Pada Kelainan Kacamata

Faktor Keturunan Pada Kelainan Kacamata

Sepasang suami istri datang ke klinik membawa anaknya Bryan yang berusia 3 tahun untuk mengecek kondisi matanya. Orangtuanya mengatakan anaknya sering mendekati layar televisi ketika menonton TV. Kebetulan kedua orangtuanya memakai kacamata. Kacamata ayah dengan ukuran minus 3 kiri dan kanan, sedangkan ibu minus 6 untuk mata kanan dan mata kiri minus 8.

Apakah kelainan kacamata ini dapat diturunkan?

Kelainan kacamata dapat terjadi pada semua usia dan setiap orang. Hanya saja pada anak-anak kemungkinan terjadinya lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh proses pertumbuhan bola mata dan fungsi pematangan penglihatan yang belum stabil. Sayangnya, pemakaian kacamata pada anak-anak di Indonesia ini masih merupakan hal tabu dan sangat dipungkiri oleh para orangtua.

Berbeda dengan orang dewasa, kelainan kacamata pada anak-anak terutama di bawah usia 5 tahun dapat mengakibatkan kebutaan yang sifatnya tidak dapat direhabilitasi bila tidak diterapi. Kelainan ini biasa disebut lazzy eye atau mata malas. Hal ini dikarenakan oleh gangguan proses pematangan fungsi penglihatan yang terjadi pada usia 0 s/d 5 tahun. Kelainan ini sebaiknya diterapi, salah satunya dengan menggunakan kacamata secara fulltime kecuali mandi dan tidur, sambil dilakukan kontrol secara teratur.

Penyebab kelainan kacamata ini bermacam-macam antara lain: 

  1. Genetik, hampir 50 % kelainan kacamata ini diturunkan dari orangtuanya. Menurut penelitian yang dilakukan di Eropa, ternyata terdapat 16 locus gen yang membawa dan mengatur proses pertumbuhan dan perkembangan kelainan kacamata.
  2. Gaya hidup. Beberapa aspek kehidupan modern saat ini berkaitan dengan penglihatan dekat (near work) yang secara teoritis lebih menyiksa untuk mata kita. Aktivitas seperti: membaca, melihat layar monitor (komputer, ipad, iphone, game portable, TV) telah memaksa mata kita untuk bekerja lebih berat sehingga pada anak-anak hal ini akan memacu pemanjangan bola mata lebih cepat dari normal yang akan menyebabkan pergeseran ke arah minus. Gaya hidup sendiri memegang peranan 45 % untuk dapat menyebabkan kelainan kacamata pada anak Anda.
  3. Penyakit lainnya. Ada beberapa penyakit mata yang dapat mempengaruhi perkembangan kacamata pada anak-anak seperti glaucoma, katarak, kekeruhan kornea, dan sebagainya. Akan tetapi hal ini sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi, dimana angka kejadian di bawah 5 % dapat menyebabkan kelainan kacamata.

Pada kasus Bryan tadi, setelah dilakukan pemeriksaan ternyata didapati bahwa Bryan menderita kelainan mata minus dengan ukuran kiri dan kanan sebesar minus 3 diopteri. Kemudian orangtua diberi penjelasan oleh dokter spesialis mata mengenai kelainannya dan terapi yang harus diberikan. Setelah 2 bulan keluarga tersebut datang kembali untuk kontrol rutin. Orangtua Bryan menceritakan bahwa Bryan sudah mau menggunakan kacamata dan Bryan saat menonton tv sudah tidak mendekati layar televisi lagi.

Untuk mencegah peningkatan minusnya disarankan untuk memperbanyak aktivitas outdoor seperti misalnya sepeda dan berenang, serta pembatasan penggunaan game dan gadget.

 

Share this article

Comment (0)

Leave Comment

FREE EBOOK!